Showing posts with label penulis tamu. Show all posts
Showing posts with label penulis tamu. Show all posts

Sunday, 7 May 2017

PENULIS TAMU KELIMA #31HARIMENULIS 2017

Beberapa hari yang lalu, selir Bang Wiro berhasil mengajak seorang blogger untuk mengisi sesi penulis tamu #31HariMenulis 2017. Dan tanpa ragu, selir abang ini, langsung rikues tema tulisan. Sebenarnya, tema tulisan kali ini spesial untuk para penulis kesayangan abang yang seringkali curhat kalau masih sering nggak percaya diri sama tulisannya. Wah apalagi untuk menulis selama 31 hari, tentu menjadi tantangan tersendiri, ya kan? Nah, maka dari itu, mbak-mbak blogger ini dengan senang hati ingin sharing tentang percaya diri dan konsistensi menulis. Harapannya, sesuai dengan tujuan terselenggarakannya #31HariMenulis ini, teman-teman bisa terus konsisten menulis :)

Selamat membaca!

*** 

Seminggu yang lalu, saya iseng-iseng membalas cuitan adik tingkat saya di kampus -yang juga rekan kerja di kantor lama– kalau saya pengen menjadi penulis tamu untuk proyek menulisnya bersama 31 hari menulis. Eh ternyata, salah satu selir Bang Wiro dengan gesitnya malah mengirim pesan ke saya yang isinya tawaran untuk jadi penulis tamu di blog Bang Wiro. Wah, kalau ini sih suatu kehormatan yang tentunya nggak boleh saya lewatkan. Tanpa pikir panjang, tawaran tersebut saya terima. Selanjutnya kami berdiskusi tentang tema apa yang enaknya saya tulis. Sang selir pun ngasih saya beberapa ide yaitu, gimana caranya biar PD dengan tulisan sendiri dan konsisten untuk menulis. Saya sempat mengerutkan kening karena merasa topik itu berat. Tapi, bukan saya donk kalau takut sama tantangan selir Bang Wiro. Jadi, melalui tulisan ini saya mau membahas soal gimana caranya PD dengan tulisan sendiri dan bisa menulis dengan konsisten. Here we go!



Tentang Percaya Diri dan Konsisten dalam Menulis
Oleh: Erny Kurnia 

Saya nggak bisa disebut penulis. Namun, nggak bisa dipungkiri tulis menulis itu hidup saya. Bahkan karena menulislah saya bisa bayar kost, makan, sampai hedon. Ya, menulis memang bisa bikin kaya (kalau ini meminjam kalimat di bio twitter Bang Wiro). Walau terlihat sepele, tapi saya setuju dengan pendapat orang kalau menulis itu nggak mudah. Ada proses panjang di balik setiap tulisan. Apalagi kalau tulisan tersebut sampai diunggah dan bisa dibaca banyak orang. Prosesnya bisa semakin panjang karena penulis tentu nggak mau asal-asalan dan ingin tulisannya dapat apresiasi positif dari pembaca. Namun, tidak jarang perasaan nggak PD datang setelah tulisan selesai digarap. Terus gimana ngakalinnya?

Sebelum saya sharing beberapa tips agar PD terhadap tulisan yang tentu saja ala saya, terlebih dulu saya mau membahas soal percaya diri. Menurut James Neill, kepercayaan diri atau self confidence itu merupakan kombinasi dari self esteem dan self-efficacy. Self esteem bisa diartikan sebagai perasaan positif yang berhubungan dengan sejauh mana kita punya sesuatu yang dirasakan bernilai atau berharga, sejauh mana kita meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat, atau berharga di dalam diri.

Sedangkan self-efficacy adalah sejauh mana keyakinan kita terhadap kapasitas yang kita miliki untuk menangani persoalan atau menghasilkan sesuatu yang bagus. Self-efficacy juga bisa diartikan sebagai keyakinan terhadap kemampuan kita untuk menangani bidang tertentu. Itu artinya, PD itu dibentuk dari positive thinking pada kemampuan kita dan meyakini kalau kita memang mampu melakukan sesuatu dengan baik (inget ya, dengan baik bukan dengan sempurna!). Jadi, udah clear ya soal konsep percaya diri ini?



Kembali lagi ke persoalan ketidak percayaan diri dalam menulis. Ada banyak sekali hal yang memengaruhi kepercayaan diri kita, mulai dari nggak PD karena merasa nggak berbakat sampai takut dikomentarin negatif oleh pembaca. Tidak berniat sok tahu, apalagi sok pinter. Kalau berdasarkan pengalaman saya sih ada beberapa tips untuk menghalau rasa kurang PD itu. Beberapa di antaranya saya rangkum pada poin-poin di bawah ini: 

1. Kalau Nggak PD, Terus Kapan Mulainya? 

Suatu hari salah satu rekan kerja saya di kantor lama cerita kalau dia habis membaca tulisan-tulisan saya di blog. Dia bertanya bagaimana perjalanan saya membangun blog dari dulu hingga dimonetize seperti sekarang. Dia pun menutup ceritanya dengan bilang punya keinginan ngeblog dari lama, tapi belum terwujud karena merasa tulisannya jelek. Jujur saya kaget dengan pengakuannya tersebut karena dia pernah bilang hal serupa pada akhir 2015 lalu. Itu artinya langkahnya terhenti karena rasa PD-nya.

Jawaban saya kala itu pun simple dan berisi pertanyaan balik yang retoris, “lha, kalau kamu malu terus, kapan mulainya donk itu blog?”

Mendengar cerita teman yang suka nulis dan pengen ngeblog, tapi nggak PD dengan tulisannya tuh bikin saya gemes. Saya selalu menekankan kepada siapapun -yang cerita kalau mereka tidak PD dengan tulisannya- bahwa untuk mengunggah tulisan kita hanya perlu klik publish. Bukan memikirkan bagaimana reaksi orang terhadap tulisan kita. Selama tulisan digarap dengan data dan fakta yang lengkap maka nggak perlu takut dengan tanggapan pembaca nantinya. Berpikir terlalu lama justru membuat kita nggak melangkah ke step selanjutnya. So, kalau nggak PD terus dengan tulisanmu, ya kubur harapanmu untuk menulis lalu diapresiasi orang lain! Hehe.

2. Publish Saja Dulu, Sempurna Itu Nanti

Percaya nggak sih kalau dengan berani klik publish, tulisan kita akan semakin lebih baik dari waktu ke waktu? Saya orang yang percaya dengan hal itu. Flashback ke tulisan saya pada awal kenal blog dulu, rasanya taste dan logika tulisannya jauh di bawah tulisan sekarang (ya walaupun sekarang belum bagus-bagus amat sih). Namun, keberanian mengunggah tulisan tersebut membuat saya terpacu untuk belajar terus menerus sehingga kualitas tulisan pun meningkat. Jadi intinya, kita nggak perlu menunggu sampai sempurna untuk menyajikan tulisan kepada pembaca. Tulis dan unggah saja.  Apapun reaksi yang pembaca tunjukkan pada kita, anggap saja sebagai motivasi untuk menulis lebih baik lagi.

3. Banyak Baca dan Jangan Malas Riset

 
Kalau temen-temen mau nulis curhat, mungkin riset nggak begitu diperlukan ya? Tapi, membaca tulisan orang lain baik dalam bentuk buku atau artikel tetep perlu. Membaca membantu kita untuk berpikir kreatif dan mengajari kita berpikir dari banyak sudut pandang. Udah gitu, membaca juga membantu kita memperkaya kosakata sehingga tulisan jadi nggak boring dan kebanyakan redundant kata (pengulangan kata yang sama dalam satu kalimat). Selain itu, terbiasa membaca bakal memudahkan kita untuk membuat rangkaian kata yang enak dibaca. Kalau sudah begitu nggak ada alasan untuk nggak PD kan? 
 
4. Buat Kerangkanya Dulu!
 
Kemarin malam saya iseng-iseng bikin polling di twitter yang berisi pertanyaan apa yang membuat temen-temen nggak PD dengan tulisannya. Peserta pollingnya Cuma 14 orang sih, tapi 50% lebih menjawab topik ngalor-ngidul adalah alasan yang membuat mereka nggak PD dengan tulisannya. Hmm... kalau sudah begini, jawabannya simple, “ya bikin kerangka dulu sebelum nulis!” 
 
Saya memang nggak selalu menuliskan kerangka paragraf satu hingga sekian itu membahas apa, tapi saya selalu memulainya dengan judul. Bagi saya, judul adalah kerangka yang membantu saya mencegah tulisan kesana kemari. Nah, kalau kamu tim bikin judul dulu baru nulis atau nulis dulu baru bikin judul? 
 
5. Stop Bilang “Maaf Tulisanku Random” dalam Tulisan!

Setiap kali blogwalking, saya paling males saat menemukan blogger yang menulis, “maaf tulisanku random” pada tulisannya sendiri. Itu semacam mengakui kekurangan yang nggak perlu semua orang tahu. Merasa kurang boleh dan justru bagus, tapi selama perasaan kurang itu membimbingmu menjadi lebih giat menulis serta memperbaiki kualitas tulisanmu. Akan tetapi, menyatakan diri soal kekurangan dalam tulisan justru membuat pembaca nggak yakin dengan gagasan yang disampaikan. So, stop menyampaikan kalimat yang menyatakan ketidakpercayaan diri pada tulisanmu di postingan blog!


Dari sekian banyak cara agar PD dengan tulisan sendiri, lima poin di atas menurut saya yang paling utama (lagi-lagi ini versi saya sendiri lho ya!). Teman-teman boleh mempertimbangkan cara saya tersebut. Namun, nggak menutup kemungkinan kalau setiap orang punya triknya sendiri agar bisa PD dengan tulisannya.

Selain gimana mengatasi rasa nggak PD dengan tulisan sendiri, selir Bang Wiro juga meminta saya sharing soal gimana caranya menulis dengan konsisten. Jawaban sebenarnya hanya, “menulislah terus!” Tapi kan itu nggak solutif. Jadi, seperti jawaban pertanyaan sebelumnya, saya jawab pertanyaan kedua ini dalam beberapa poin di bawah ini, mari kita renungkan bersama!

1.         Jadikan Menulis Sebagai Kebutuhan

Sandang, pakan, dan papan memang kebutuhan primer saya, tapi masih ada satu lagi yang tak kalah pentingnya yaitu, menulis. Orang-orang terdekat saya paham bagaimana saya sangat butuh menulis. Menulis itu terapi pada saat saya mengalami stres dan punya masalah. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir saya menyadari bahwa menulis bisa meredam energi negatif (marah). Oleh karena itu, saya selalu butuh menulis untuk menjaga kewarasan diri. Baik tulisan itu saya simpan sendiri maupun saya unggah di blog.

Bukan hanya saya yang menjadikan menulis sebagai sarana untuk melampiaskan energi negatif (dari marah hingga trauma), karena hal yang sama juga diamini oleh penulis buku, Salsabeela “Ollie” Halimatussadiah.



Pada suatu kesempatan saat berbincang dengannya, Mbak Ollie bilang bahwa dirinya rutin menulis jurnal setiap hari (tentunya di samping nulis blog atau buku). Bukan dia saja, selebgram kondang Alodita pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua adalah orang-orang besar yang menjadikan menulis sebagai kebutuhan. Mereka merekam hal-hal yang perlu disyukuri melalui tulisan dan mereka juga menyalurkan kekecewaan melalui tulisan. Tidak jarang tulisan berisi rekaman itu justru bermanfaat untuk orang lain saat diunggah di blog maupun website khusus. Lebih penting dari itu, tulisan tersebut akhirnya membantu mereka untuk bisa berpikir waras terus.

2.         Buat Timeline Menulis


Saat menulis sudah jadi kebutuhan, sebenarnya nggak terlalu sulit untuk konsisten. Namun, selama ini saya tetap membuat timeline. Saya mewajibkan diri menulis untuk blog satu hingga tiga tulisan setiap minggunya. Wajibnya sih sebenarnya tiga tulisan, tapi kadang ada pekerjaan lain yang lebih penting jadi ya saya hanya nulis satu. Kebiasaan menulis dengan jumlah tersebut sudah saya jalani sekitar setahun lebih. Awalnya berat, tapi lama-lama sudah berjalan dengan sendirinya. Kalau temen-temen sudah konsisten menulis, kamu nggak akan kehabisan ide dan justru semakin jeli melihat topik yang layak untuk ditulis!

3.         Menulislah untuk Diri Sendiri

Bercita-cita menyajikan tulisan yang menginspirasi orang lain memang baik, tapi untuk mengawalinya, menulislah untuk diri sendiri terlebih dulu. Dengan menulis untuk diri sendiri, kita nggak akan terbebani dan merasa jauh lebih enjoy. Senangkan diri kita dengan cara menulis, maka kita akan terus menulis karena merasa senang melakukannya. Urusan dibaca orang lain dan bagaimana reaksinya itu jangan dipikirkan terlalu dalam. Soalnya, “wong urip kuwi nek orang nyinyir ya dinyinyirin!” Jadi, santai saja!

4.         Sekali Lagi, Jangan Malas Membaca, Melihat, dan Mendengar!

Kalau dianalogikan dengan proses pencernaan, menulis itu ibarat pup. Orang bisa pup kalau dia makan, begitu pun dengan menulis. Orang bisa menulis kalau banyak membaca, melihat, dan mendengar. Intinya semua hal bisa kita jadikan tulisan selama kita peka. Membaca, melihat, dan mendengar, selalu membantu kita menambah wawasan dan meningkatkan kepekaan. Tiga hal itu pula yang jadi bahan bakar dalam tulisan. Semakin peka, semakin banyak topik tulisanmu, maka semakin konsisten pula untuk menulis!


Empat poin tersebut menurutku cukup untuk membantu kita konsisten dalam menulis. Sebenarnya dengan konsisten menulis, kepercayaan diri terhadap tulisan kita juga bakalan tumbuh semakin baik. Satu hal yang tak kalah penting, kita bakal tambah peka dalam melihat suatu kejadian dalam hidup dengan berbagai sudut pandang. Orang-orang yang mampu menyajikan tulisan inspiratif itu pasti sudah terbiasa menulis sebelumnya. So, jangan ragu untuk menuliskan gagasanmu dan menyajikannya di blog.
Apalagi setelah temen-temen jadi pendekar dalam 31 hari menulis, harusnya kamu semakin PD dengan tulisan sendiri dan semakin terbiasa menulis setiap hari. Jangan biarkan blogmu mati suri setelah 31 hari menulis tahun ini berakhir! Nggak perlu menunggu sampai 31 hari menulis tahun berikutnya untuk mencurahkan gagasan dari sudut pandangmu. Menulislah terus, barangkali dengan tulisan kamu bisa bayar kost sendiri, bayar makan sendiri, dan hedon dengan uang sendiri. Sekali lagi, karena menulis itu membuat kaya (meminjam kalimat di bio twitter Bang Wiro) dan membuat pikiranmu lebih terbuka! Salam menulis.

Dari Erny Kurniawati
Seorang mahasiswi pejuang skripsi dan blogger di balik www.ernykurnia.com

Monday, 24 April 2017

PENULIS TAMU KETIGA #31HARIMENULIS 2017

Selamat malam, rekan-rekan petarung 31 Hari Menulis! Gimana nih semangat menulisnya? masih kenceng? Biar tambah semangat, malam ini abang kembali hadirkan penulis tamu yang ketiga! Nah, penulis tamu kita kali ini, datang dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, jurusan Sastra Prancis. Doi ini adalah salah satu redaktur website kibul.in. Buat yang suka bahasan tentang sastra, seni dan budaya, boleh banget nanti mampir ke website kibul.in, ya!
Okelah kalau begitu, langsung aja yuk, kita baca tulisan dari Ari Bagus Panuntun :)
Selamat membaca!

***

Perkebunan Simalakama
Oleh Ari Bagus Panuntun



Sebuah obrolan panjang di Kantin Bonbin suatu hari pernah menghasilkan sebuah teori: dalam hidup hanya ada dua urusan, urusan bisnis dan urusan kemanusiaan. Urusan bisnis adalah segala tindakan yang memperhitungkan untung rugi atau segala perihal tentang apa yang kamu dapat setelah kamu memberi. Sementara urusan kemanusiaan didefinisikan sebagai tindakan yang hadir dari perasaan yang paling purba, yang tujuannya demi kebaikan hidup umat manusia, dan tentu saja tidak ada itung-itungan. Teori tersebut tentu saja terlalu disederhanakan. Namun soal benar atau tidaknya, silahkan renungkan sendiri. Sebab bukan itu intinya. Dan mari lekas kita lanjutkan.

Kita tumbuh dewasa di zaman urusan bisnis musti lebih diutamakan ketimbang urusan kemanusiaan. Serba susah jadinya. Bahkan untuk urusan yang paling mendasar bagi umat manusia: Makan.

Dahulu, makan barangkali dipandang sebagai aktivitas biologis semata. Tapi kini kata siapa. Makan pun kini urusan bisnis. Entah bisnis eksistensi atau bisnis ekonomis.

Perihal makan demi bisnis eksistensi, makan kini telah menjadi aktivitas self-identifying. Lewat makan, orang berusaha mengkonstruksi identitasnya. Barangkali kita bisa menengok Instagram atau Path yang kini jadi arena balap unggah foto makanan. Dengan sekali unggah gambar es matcha, beragam identitas baru akan segera melekat pada masing-masing individu. Bisa jadi si kaya, bisa jadi si gaul, bisa jadi sebaliknya. Makan bukan lagi soal kenyang/tidak kenyang atau enak/tidak enak, makan kini telah menjadi konsumsi akan nilai simbol – sebagaimana ciri masyarakat konsumtif Ă  la Baudrillard. Tapi sebaiknya soal ini tak kita lanjutkan, sebab selain cenderung judgemental, perihal ini juga tak sebegitu menakutkan dibanding urusan bisnis selanjutnya, yakni bisnis ekonomis.

Bisnis ekonomis dalam hal ini merujuk pada bisnis kapitalis, yaitu bisnis yang kita dapat dari Teori Maslow, bahwa tujuan bisnis tak lain adalah demi akumulasi keuntungan. Jika sudah demikian, maka urusan kemanusiaan akan dengan entengnya dikesampingkan. Dan dalam urusan makan, soal ini amatlah menyedihkan. Kita hidup di era dimana pasar menawarkan dua jenis makanan, yaitu organik dan non-organik. Yang organik memang sehat karena diolah tanpa bahan kimia, tapi harganya kelewat mahal. Sedang yang non-organik tentu saja murah dan mudah kita temukan, sayang makanannya berasa racun serangga.

Hampir setiap tahun, kita menemukan berita tentang orang yang mati keracunan duku—tahun lalu warga desa saya sendiri jadi korbannya. Saya bahkan mulai pesimis akan sehatnya sayur sop. Dulu kita mengimajinasikan sop sebagai kesegaran yang bernutrisi. Hari ini? Sayur sop berisi kentang, tomat, wortel, atau daun bawang yang setiap harinya diguyur pestisida. Maka 40 tahun kedepan, ada berapa gram endapan logam berat sisa pestisida di tubuh kita?

Saya punya beberapa teman calon sarjana yang punya cita-cita jadi petani sayur dan bunga. Ia berceloteh tentang hidup yang sederhana di lereng gunung dengan teras rumah penuh rumput jepang dan kembang mawar plus pot-pot berisi cabai, timun, kacang polong, kacang panjang, juga daun bayam yang di tumbuhkan dengan siraman air segar saja. Aih..Semuanya serba organik !

Asyik benar nampaknya.

Ah, tapi kan untuk begitu juga butuh modal?

Sungguh bagi kita yang kere ini, cerita tentang negeri dengan ratusan jenis sayur dan buah warna-warni nan menggoda hanyalah dongeng belaka. Kita tidak sedang hidup disana. Kita tengah hidup di tengah perkebunan homogen. Dari Ciwidey, Dieng sampai Bromo sana, ternyata kita dikelilingi satu model perkebunan saja: perkebunan simalakama.

Kita konsumsi sampah
Kita produksi limbah
Kita konsumsi sampah
Kita produksi limbah

Hijau - Efek Rumah Kaca

Monday, 17 April 2017

PENULIS TAMU KEDUA #31HARIMENULIS 2017

Setelah kemarin kita kedatangn penulis tamu dari pemenang Blog Terangker #31HariMenulis tahun sebelumnya, kali ini kita kedatangan penulis tamu yang nggak kalah spesial. Langsung aja, yuk, dibaca tulis dari dosen kita, Mas Wisnu! :) Selamat membaca!

****

Menulis adalah Perjuangan
Oleh Mas Wisnu Martha Adiputra

Tulisan ini hadir ketika sebuah lagu indah dan rancak mengalun nyaris secara tak sengaja ketika saya memilih playlist berisi lagu-lagu Indonesia. Lagu yang bila didengar saat ini membenturkan adagium bahwa “pengarang telah mati”. Mendengarkan lagu ini muncul semacam perasaan ambingu antara senang mendengarnya dan agak sebal pada produsen konten utamanya yang kini berpolitik kasar dan anti keberagaman.
 
Lagu ini adalah “Hidup adalah Perjuangan” dari albummasterpiece Dewa tahun 2000, Bintang Lima. Album sangat bagus yang selalu enak didengar walau selalu ada “perasaan bersalah yang nikmat” setiap mendengarkan album ini dan semua album Dewa yang lain, terutama sejak tahun 2014.
 
Baru sekitar seminggu yang lalu saya bertanya di kelas, acara yang oke banget bernama “31 Hari Menulis” kok lama tak terdengar ya? Tetiba saja kemarin saya mendapatkan satu tawaran menulis di “pertarungan” ini. Tentu saja saya bersedia karena kompetisi sengit ini bagus, bahkan mengalahkan kesengitan liga Inggris saat ini, dan juga ada kesesuaian yang tinggi dengan kurikulum baru yang baru saja dirilis oleh departemen kita tercinta.
 
Sesungguhnya menulis adalah aktivitas mendasar di ilmu kita ini. Aktivitas mendasar sebelum memproduksi konten yang lain berdasarkan formatnya setelah cetak, audio, visual, audio visual, juga multimedia. Menulis singkat seperti yang dilakukan 38 “pendekar” di kompetisi ini adalah awal untuk menulis yang lebih rumit dan mendalam.
 
Berdasarkan lokusnya, tulisan ada di dua kutub besar, yaitu tulisan faktual dan tulisan imajinatif. Tulisan faktual adalah upaya menyampaikan realitas. Tulisan faktual menjadi elemen utama dari jurnalisme dan kegiatan kehumasan, walau dengan ketentuan dan prosedur yang berbeda.
 
Sementara itu tulisan imajinatif adalah kutub yang lain, mulai dari wilayah yang disebut penulisan kreatif sampai dengan tulisan fiksi murni. Di dalam peminatan media entertainment dan periklanan, tulisan imajinatif adalah elemen yang utama walau berangkat dari strategi dan tujuan yang berbeda di antara keduanya.
 
Kegiatan 31 Hari Menulis yang positif ini juga mengombinasikan kegiatan di kelas, di mana kurikulum menjadi acuan utamanya, dan kegiatan komunitas sesama mahasiswa atau pembelajar.
 
Melalui kegiatan menulis bersama ini, selain berkompetisi dengan bergembira, kegiatan ini juga akan menjadikan pembelajar saling memberi informasi tentang kepenulisan dan tentang beragam topik, bahkan memberi informasi tentang rekan lain yang mungkin berbeda dengan yang selama ini kita kenal. Ada pembelajar yang bercerita pada saya bahwa dia baru mengetahui rekannya sebagai penulis tentang film yang bagus setelah membaca tulisan-tulisan rekannya di blog.
 
Melalui kompetisi yang asyik ini tiap pesertanya juga akan saling membantu dengan mencerahkan satu sama lain, antara lain melalui beragamnya topik dan juga teknis menulis. Tiap orang akan saling belajar dari rekannya mengenai topik yang dipilih, sudut pandang yang diambil, bahkan dengan pilihan-pilihan kata untuk membangun argumen.
 
Banyak cara untuk rajin menulis dan juga menulis dengan baik. Cara pertama adalah dengan membaca karya orang lain. Mulai dari karya teman-teman sendiri, antara lain para pendekar, eh…penulis di 31 Hari Menulis ini, sampai dengan membaca karya-karya penulis terkenal, mulai dari Ahmad Dhani sampai Bono, mulai dari Tere Liye sampai Harumi Murakami.
 
Selain itu terus memperbanyak kosa kata dan memahami penggunaannya dengan tepat, juga menjadi cara yang penting untuk diasah terus-menerus.
 
Cara terakhir, dan mungkin  yang terpenting adalah menulislah dengan terus menggerakkan jari, menulis tangan di kertas ataupun “menarikan” jari di atas keyboard secara rutin walaupun untuk kontinyu, terus menerus, itu berat.
 
Menulis pada satu sisi adalah aktivitas yang berat. Karena itulah menulis harus dibiasakan, sebab menulis adalah perjuangan tanpa henti-henti, sepanjang waktu. Ada kala suatu hari kita merasa bisa menulis, di hari lain bisa jadi macet sama sekali tak menuliskan apa-apa.
 
Karena itu menulislah mulai hari ini, bila perlu tidak hanya 31 hari melainkan 100 bahkan sampai 1000 hari bila perlu, karena kita bisa terus menulis rutin karena sudah menjadi kebiasan.
 
Untuk ke-38 petarung yang akan menantang bang Wiro, selamat bertarung dengan antusias sambil merayakan asyiknya menulis. Gunakan jurus-jurus mengolah kata dengan sebaik-baiknya agar kita sama-sama jadi sakti mandraguna.




Sunday, 16 April 2017

PENULIS TAMU PERTAMA #31HARIMENULIS 2017

Yang pertama ini datangnya dari pemenang BLOG TERANGKER #31HariMenulis tahun lalu.
Selamat Membaca! :) 

***
 
Kembali Menyapa (Mengenang) #31HariMenulis
Oleh Danastri Rizki N.


Hampir dua tahun lalu, tepatnya 20 Mei 2015, tulisan pertama saya untuk #31HariMenulis edisi tahun 2015 diunggah. 2015 adalah tahun kedua keikutsertaan saya setelah 2012 silam--iya, selama itu. Selang tiga tahun yang ada ternyata membuat selera tulisan saya bisa berubah banyak dan terima kasih kepada #31HariMenulis sudah menjadi sarana dan wadah rekam jejak transformasi itu.
2012 dulu, saya melalui #31HariMenulis sebagai mahasiswa tahun kedua dengan 97,84% pikiran-jiwa-raga tersita untuk kuliah. Ternyata itu menghasilkan tulisan-tulisan yang kelewat analitik terhadap hal-hal di sekitar--saya bilang 'kelewat' karena kalau dibaca sekali lagi, rasanya kok cocoklogi-wagu-ra masuk-njuk ngopo dan tulisan-tulisan yang dihasilkan jarang yang bersifat fiksional dan didominasi oleh refleksi atas keseharian yang bersifat essay--antara selo dan kurang piknik itu bisa setipis itu, guys. Bisa dibilang, ruang imajinasi saya sangat sempit waktu itu karena setiap minggu sibuk meladeni tugas Reportase, Penyuntingan Media, dan Jurnalisme Media Cetak--dan mungkin terlalu sibuk hingga luput menulis sebanyak empat hari dan harus membayar denda Rp 80.000. Jadi, apa yang saya tulis sepanjang 31 hari di tahun 2012 adalah refleksi mentah dari keseharian kala itu dan proses kreatif atau perenungan dari pengalaman menulis untuk #31HariMenulis di tahun 2012 bisa dibaca di sini.
Di tahun 2015, sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sudah terbiasa melihat teman-teman seperjuangan bertoga dan berkalung cumlaude, 'hanya' skripsi yang menghantui di ranah akademis jadi ada lebih banyak ruang untuk mengembangkan imajinasi. Jika 2012 saya hanya memiliki saya sendiri sebagai persona yang diceritakan, tahun 2015 saya memiliki Mei, Mama Mei, Eta, Juned, Linda, Oen, dan beberapa tokoh figuran lainnya--bahkan hingga sosok Steven Gerrard yang dimetaforakan (ringkasannya bisa disimak di sini). Mereka lahir dari remah-remah refleksi keseharian, tidak mentah seperti tahun 2012 silam. Mereka hidup dalam kepala kecil ini selama 31 hari penuh--'hidup' as in sebagai jiwa-jiwa mungil yang memiliki nama, kepribadian, kisah hidup, keseharian, dan bahkan interaksi sosial satu sama lain. Seperti itulah sejatinya menulis kreatif, membiarkan ide itu hidup dalam kepala kita--mengalir tanpa diarahkan, kecuali jika kamu adalah seorang jurnalis yang rigid dengan data dan fakta yang kalau dibiarkan 'hidup' justru jadi bias. Kata Joko Anwar di Ajisaka 2013, membangun cerita adalah membiarkan karakter itu hidup dalam pikiran kita--tidak persis begitu tapi kira-kira begitulah, ingatan saya tak setajam itu.
Jadi, apa yang perlu ditulis untuk #31HariMenulis? Apapun yang bisa ditulis! Lalu apa yang bisa ditulis? Apapun--like--literally anything! Apapun yang hidup dalam kepalamu dan itu menggairahkanmu. Sel-sel otakmu menari ketika berkarya dengan diksi dan menyusunnya dalam puisi? Tulislah! Atau ketika menangkap sebuah potret humanis di warung tempat kamu tadi membeli rokok? Tulislah! Atau ketika jengah menghadapi timeline sosmed dan ingin mengutuk konspirasi yang ada? Tulislah! Atau ketika hanyut dalam dimensi audio-visual sebuah film? Tulislah! Atau ketika sekedar melamun menatapi secangkir kopi yang kamu sesali karena rasanya tak sebanding dengan harganya? Tulislah! What you see, hear, feel, sniff, touch, and read can be written. Kamu akan terdecak kagum dengan kesederhanaan-kesederhanaan ide yang bisa diberikan dunia untuk diolah oleh otakmu, berkat #31HariMenulis yang menuntutmu untuk mengkaryakan tulisan original setiap harinya.
Bagi teman-teman penulis; pengasah diksi, pengurai data, pembungkus imajinasi, perangkai fakta, atau bagaimana pun kamu melihat dirimu dari caramu menulis, selamat berpesta kata dan konsistensi selama 31 hari ke depan!

karena menulis adalah bagian dari pemaknaan #bahagiaitusederhana,
untuk #31HariMenulis