Saturday, 29 April 2017

PENULIS TAMU KEEMPAT #31HARIMENULIS 2017


Penulis tamu keempat kita datang dari Fakultas MIPA UGM! Pemilik blog kinetikaimaji.wordpress.com ini juga sekaligus masih menjabat sebagai PU BPPM Balairung. Kalau suka puisi-puisi syahdu silahkan boleh berkunjung, sambil sama-sama kita berdoa supaya Fazrin bisa cepat menerbitkan buku puisi. Amin saudara-saudara? Aamiin

--

Puisi-puisi yang saya lampirkan, dibuat setelah saya membaca semua kata pengantar buku seri puisi terbitan Grasindo. Hanya itu yang bisa saya sampaikan mengenai puisi-puisi tersebut. Semoga saya tidak berbohong.

Semakin sering penyair berbicara soal puisi, semakin banyak pula kemungkinan ia berbohong. Saya percaya itu dan untungnya saya bukan penyair—setidaknya sampai saat ini. Saya sendiri ragu bahwa apa yang saya tulis adalah puisi. Saya hanya menulis apa yang membuat saya gelisah hingga akhirnya gelisah itu hilang. Kegelisahan itu bernama imajinasi dan saya menulis karena tak ingin mengkhianati imajinasi saya.


SAPARDI DJOKO DARMONO
-Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari petani yang gagal panen
karena hujan angin
yang tak bijaksana

Tak ada yang lebih tabah
dari petani yang menanti
hujan datang
di bulan kemarau berkepanjangan

Tak ada yang lebih bijak
dari petani yang terus menanam
meski harga padinya diludahi negara.

/2017

SUBAGYO SASTROWARDOYO
-Dan Kematian Makin Akrab

Bahwa ada yang makin mendekat
memeluk erat dan berkata:
kau tak tahu apa-apa.

/2017

SONI FARID MAULANA
-Secangkir Teh

Aku melahirkan dua saudara kembar
mungkin ia anakku
dilahirkan dengan bantuan penerbit
ia sehat
berlembar-lembar bagian tubuhnya
sumringah menatap pembaca
ia terpisah
oleh sampul muka yang berlainan
di jidat mereka tertulis namaku
mungkin ia anakku
tak dilahirkan oleh ibu
sukma kata-nya dihembuskan oleh nenek
tertuang cangkir demi cangkir
kututup-peluk penuh cinta.

/2017

JOKO PINURBO
- Pacar Senja

Yesus,
saat Kau memakai celana
kaki mana yang pertama Kau masukkan ?
kanan atau kiri ?

/2017


PIEK ARDIJANTO SOEPRIJADI
-Biarkan Angin Itu

Namaku telah Kau genggam saat aku mulai menulis puisi.

/2017

M POPPY DONGGO HUTAGALUNG
& AD DONGGO
-Perjalanan Berdua

Kami tulis puisi:
suamiku yang menanak nasi, memotong sawi, dan membeli cabai di warung.
Aku tulis tiap bait potongan sawi. Kutambahi garam dan merica. Hari ini kita
memasak sajak-sajak.

Kami tulis puisi:
Istriku menonton TV sehabis masak oseng sawi. Aku menguras kamar mandi.
Sambil mendengar berita bohong hari ini. Istriku sedang sibuk mencari channel
puisi. Aku berpuisi di kamar mandi.

/2017

IMAN BUDHI SANTOSA
-Matahari-Matahari Kecil

Buruh-buruh pemetik daun teh
tukang las besi pengkolan
tubuhku yang ngekos di lika-liku Jogja
Jawa
dan kearifan lokal

Apakah berguna puisiku untuk mereka ?

/2017

AFRIZAL MALNA
-Kalung dari Teman

Seorang hamba sedang menyapu halaman-halaman di
tubuhku. Menggunting pucuk-pucuk daun. Berjatuhan
tangkai-tangkai kekacauan. Tubuhku menyapu halaman
halaman puisiku. Aku tak tahu siapa hamba yang sedang
menyapu. Kuguntingi pucuk-pucuk daun pohon anak nakal
di halaman. Kubentuk seperti pagar-pagar. Benteng yang
menangkal negara. Negara telah kacau oleh gergaji mesin
ibukota. Aku tidak sedang ingin pidato kemenangan. Aku
menanam kemungkinan-kemungkinan. Di halaman depan
aku tak tahu siapa yang sedang menyapu. N E G A R A !

/2017

AMIR HAMZAH
-Padamu Jua
Telah mati seorang pujangga
ditikam mata pisau sepi revolusi
berbaring ia di altar sepi
diiringi nyanyian-nyanyian sunyi

Dalam sepeti sajak, ia pergi ke astana rela
Yang gapuranya dihiasi tangkai cempaka yang mesra
Tenanglah di sana sang buah rindu
kembali pada bondamu sang pohon pilu

/2017

No comments:

Post a Comment