Friday, 19 June 2015

Penulis Tamu Keempat #31 Hari Menulis 2015

Mungkin penulis tamu terakhir di periode ini. 
Sebuah tulisan dari kerabat perempuan Bang Wiro tentang... ah baca saja...


***

Ibuk di Rumah Tuhan
oleh Kania ST

“Kalau ibu pergi, tak kubiarkan tanganmu menyentuh mayat ibu. Tidak pula mayat bapak, tidak pula mayat adik-adikmu. Sudah ibu bilang pada semua orang; jangan biarkan tanganmu menyentuh mayat ibu.”

Pagi itu aku menyiangi sereh dan daun salam, merajang bawang dan cabai. Dua dada ayam tanpa tulang sedang kurebus. Kencur sedang kutumbuk. Dua-tiga jam sebelumnya ibu menelpon. Tak kuangkat karena terlalu pagi. Aku tak siap dengan apapun yang akan ibu sampaikan. Pesannya menyusul tak lama kemudian; “Mengapa engkau tidak menjawab panggilan ibu?” Kupikir bisa kujawab nanti, bilang aku belum bangun atau apalah.
Jam setengah sepuluh ibu menelpon kembali. Lucu, teleponku tidak berdering, untung aku sedang melihat. Jantungku berdegup siap tak siap.

Ibu, bapak, dan adik-adikku baru saja meninggalkan kotaku sehari-dua hari sebelumnya. Tidak mengabariku, hanya mengirim pesan singkat ketika mereka telah tiba. “Apa kabar, sayang? Ibu, bapak, dan adik-adikmu sedang di kotamu.” Sore hari. Aku baru kelar mandi setelah bercinta, kali kedua hari itu. Aku diam saja. Kubalas pesannya, tak dijawab hingga malam. Kuputuskan untuk menelepon bapak.

Agak terkejut aku ketika bapak menjawab panggilanku ketus. Pertanyaanku dia jawab pendek-pendek. Kutanya di mana menginap, apa rencana malam itu dan besoknya, kapan pulang; semua dijawab pendek-pendek. Rupanya ada kondangan esok siangnya. Anak teman kuliahnya mantenan. Rupanya mau ketemu simbah sorenya. Rupanya mau membeli batik. Kutanya jam berapa bisa ditemui. Wah, nggak tau mbak. Bapak banyak acara rupanya. Tersenyum simpul lah aku sedikit. Agak kecewa. Biasanya aku yang menolak ditemui. Kali ini bapak yang bertingkah sulit ditemui. Mungkin beginilah rasanya susah menemui keluarga sendiri. Kukatakan padanya aku besok menunggu kabar darinya. Telepon ditutup setelah basa-basi. Aku terdiam sejenak, masih tersenyum. Tanganku kutenggelamkan dalam-dalam di kantong celana. Biarlah. Mungkin ibu lebih lunak. Kupikir bapak mungkin menggunakan psikologi terbalik padaku.

Hubungan kami belakangan tak bisa dibilang baik. Berkali-kali mereka datang ke kotaku, aku enggan ditemui. Adalah pekerjaan, adalah urusan ke kantor ini-itu, adalah teman. Tapi selalu kutemui. Orangtuaku berkeberatan dengan tingkah laku dan kebiasaanku. Menurut mereka “kebarat-baratan”, tidak sesuai moral agama, norma-norma tak kupatuhi, anak tak sopan. Ciut pula nyaliku ketika ibuku bilang aku durhaka. Macam sudah di ujung tanduk itu lah ridho orangtuaku. Salah memang aku. Tak benar. Namun tak pernah pula kubilang aku benar, tak pernah kubilang aku yakin inilah yang aku anggap benar. Kubilang aku salah. Tak ada yang bilang minum-minum itu perilaku dibenarkan. Siapa mau anak perempuannya berzinah? Namun kubilang ini hidupku. Aku ingin melahap semua pengalamanku sendiri. Aku sedang dalam proses belajar. Sudah cukup orangtuaku menjadi guru, aku ingin berguru di tempat lain. Mana ada orangtua yang mau mengerti? Makin tak imbang lah hari-hariku. Mulai pula aku berpikir ridho ibuku memang hampir jatuh dari tanduk. Nyaris gila aku.

Nyaris sebulan sejak ibuku terakhir menelpon. Ketika beliau menelpon, sedang tak siap pula aku. Kujawab halus-halus. Menit-menit pertama tenang sekali suaranya. Kujawab semua pertanyaannya; adalah bagaimana kabarku, adalah bagaimana skripsi, adalah begini, adalah begitu. Lama-lama kok kurasa agak keras nadanya? Aku mulai diam. Benar saja, tak lama menangis dia di telepon. Katanya aku tak sopan lah, katanya aku durhaka lah, katanya aku tak hendak mengangkat telponnya lah. Sumpah, tak ada kukatakan sekali pun dalam perbincangan ini sesuatu yang kira-kira dibencinya. Sebelum ditutupnya telepon, disumpahnya aku tak boleh menyentuh mayatnya ketika beliau meninggal. Hancur hatiku. Telepon genggamku kuletakkan dengan berat hati. Kuangkat dada ayam dari pinggan namun pandanganku kabur. Di luar terik, namun dingin mulai meraba tubuhku.

Kata ibu bergetar aras ketika terjadi tiga hal: terucap ijab kabul, terucap talak suami pada istrinya, dan keluar amarah ibu pada anaknya.Durhaka. Alamak.

1 comment:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete