Thursday, 26 May 2011

Oh Skripsi, Oh Skripsi..

Pengantar admin: Admin 2 tahu betul bagaimana rasanya galau skripsi. Saat galau skripsi dulu admin 2 biasanya curhat ke teman, menulis di blog ataupun malah bengong. Setelah admin 2 pikir-pikir ternyata admin 2 tak paham bagaimana memulai dan menjaga mood saat skripsian. Hal itu karena tak ada satupun pegangan mengenai bagaimana menulis skripsi. Dengan pengalaman buruk tersebut maka admin 2 merasa tulisan penulis tamu kali ini akan bermanfaat bagi teman-teman yang sedang galau skripsi. 

Penulis tamu kali ini adalah Mbak Rani. Bagi teman-teman yang tidak tahu, beliau adalah asisten dosen Mas Nunung di mata Kuliah Dasar-Dasar Penulisan saat admin 2 mengambil mata kuliah tersebut. Saat ini wanita yang aktif di FISIPOL UGM ini akan membagi bagaimana tips memulai skripsi mulai dari nol. Untuk kemudian bagaimana menjaga mood mengerjakan skripsi agar tak terlalu memberatkan kita. Tips ini jelas tak bisa menolong skripsi teman-teman cepat selesai namun setidaknya teman-teman jadi punya pegangan bagaimana memulai skripsi yang ideal.

Oh Skripsi, Oh Skripsi..
Oleh: Challida NoorSeptina alias Mbak Rani

Tulisan ini bukan untuk semakin mengharu-birukan kegalauan hati para skripsier dan calon skripsiers. Walau judulnya senada dengan judul serial melankolis di televisi jaman dulu, semoga bisa sedikit mencerahkan hari dan pikiran teman-teman pembaca.

Apa yang perlu disiapkan untuk menyambut kehadiran buah hati,..eh..skripsi Anda?

Yang akan kujabarkan berikut ini adalah langkah-langkah persiapan bagi kamu yang sama sekali belum skripsi. Belum cari judul, belum bikin form 1. Bahkan belum juga berniat bikin skripsi.
Nah, itu dia.
Hal pertama yang perlu disiapkan adalah NIAT. Tentang mengapa kenapanya tampaknya kurang penting untuk dijabarkan kembali disini. Kasarannya, memulai skripsi tanpa niatan ibarat ketiduran pas lagi nonton tayangan tv yang ga mutu. Daripada ga jelas kan mending yang jelas-jelas saajaa... Kalau mau tidur ya yang bener tidurnya. Kalau mau nonton ya jangan acara tv-lah.

Niat inilah kekuatan pertama dan utama dalam pengerjaan skripsi. Tanpanya, sudah sering sekali terjadi bagaimana skripsi yang sudah dikerjakan di bab 1 tiga tahun lalu, belum juga maju ke bab 2 di tahun ini. Tanpa niat, kekuatan hati dan pikiran akan lebih mudah teralihkan oleh hal-hal asyik yang jauh lebih menyenangkan dan melenakan daripada skripsi.
Kalau niatmu sudah kuat tertancap di sanubari, ada dua persiapan besar yang perlu kamu lakukan.
Pertama, persiapan intelektual-akademis. Secara lebih gamblang, ibarat akan memasak hidangan hebat ala Master Chef, ada dua komponen utama yang harus ada: bahan masakan dan alat memasak. Bahan masakan secara akademis adalah materi-materi kuliah dan konsep-konsep yang selama ini sudah terjejalkan masuk (atau tidak?) ke kepalamu. Kalau selama ini sudah lumayan tercecoki, maka kamu tinggal me-retrieve-nya dari memorimu, memancing-mancingnya keluar dengan umpan-umpan kasus-kasus dan fenomena terkini komunikasi. Bila tak ada yang pernah nemplok di memory folder-mu (Kemane aje loe tiga tahun kuliah?!?!), siap-siap belajar lagi baaaanyak hal. 

Alat memasak pun harus disiapkan untuk memasak skripsimu, yakni metode-metode penelitian yang sejagad banyak dan rumitnya. Ini wajib hukumnya. Karena tidak mungkin menggoreng ikan bila kamu hanya punya panggangan sate. Hil yang mustahil memprediksi tingkat penjualan pasca suatu implementasi strategi pemasaran bila selama ini kamu lebih fasih bahasa etnografi daripada kuantitatif.

Kalau alat memasak ternyata sama sekali ga punya, berarti siap-siap nabung (nabung waktu baca dan diskusi) untuk menguasai (kembali?) alat-alat yang akan kamu perlukan.
Persiapan besar kedua: mental-spiritual. Perihal yang ini memang tidak terlepas dari bab niat. Yakni saat sudah niat kemudian bagaimana caranya mewujudkan niat itu dalam suatu komitmen yang penuh tekat dan semangat. Misalnya, dengan memilih dan menimbang-nimbang, apakah kamu akan mampu lebih cepat dan efisien merampungkan skripsi bila:
a. fokus hanya me-nykripsi, tanpa tedeng aling-aling, atau
b. sambil agak nyambi-nyambi biar ga jumud dan gila sendiri.
Masing-masing pilihan berbeda sifat dan konsekuensi. Saya sendiri, ternyata baru bisa kelar skripsi setelah bersemedi, mengurung diri dan menjauhkan hati dan pikiran dari duniawi (halah!). Menyambi-nyambi ternyata hanyalah manuver kebohongan diri, agar seolah skripsi padahal masih getol berhaha-hihi.

Apabila persiapan yang dua gaban tersebut sudah relatif siap, mari kita lanjutkan ke pembahasan selanjutnya. Pembahasan berikut ini adalah salah satu masalah klasik sepanjang jaman yang hampir selalu dialami oleh setiap mahasiswa yang terpaksa harus mengerjakan skripsi, yakni ‘Cari Judul’ (bukan judul lagu).

Gimana caranya cari judul? Sebenernya agak-agak mirip cari jodo juga sih.. Tapi jangan khawatir, ketidaksuksesan mencari jodoh tidak berkorelasi dengan kesuksesan mendapatkan judul skripsi (heh?). Artinya, saat mencari judul, jangan segan dan sungkan untuk kenalan, melakukan pendekatan dengan sabar, lalu mengikatnya dengan sopan. Ya, memang seperti itu. Seperti mencari jodoh, masing-masing orang memiliki seleranya masing-masing, ga perlu memaksakan diri menyukai yang rata-rata digemari orang lain. Apa salahnya menyukai lelaki kurus tinggi, meski umumnya perempuan lain memilih yang berperawakan sedang nan berotot. Jangan ragu pilih etnografi (misalnya), walau yang lain banyak yang gemar analisis isi.

Setelah menentukan seleramu seperti apa, mulailah bentangkan pandangan dan “cuci mata”, tentukan target-target potensial, barulah kenalan. Yakni, setelah cukup yakin kamu seleranya gimana (tema-tema yang paling “memanggilmu”), bisanya ngapel bawa apa (kecakapan metode penelitianmu), selevel ga (ehm, sama kemampuan intelektualmu, misalnya), barulah kenalan (memilih tema penelitian yang potensial). Setelah itu..mulailah menggali. Pahami betul siapa dan bagaimana dia, latar belakang, kisah-kisah dan sejarahnya. Jangan sampai kamu ternyata tipe yang bikin dia inget sama mantannya. Dalam khazanah perskripsian, maksudnya ya jangan sampai memilih topik yang sudah pernah diteliti orang lain.

Setelah lumayan kenal, teruslah lakukan pendekatan intensif. Sampai kurang lebih kamu memahaminya luar dalam. Hingga kamu sungguh-sungguh memahami inti permasalahan dalam topik yang sedang kamu dekati itu. Bila sudah sampai titik ini, maka pilihan(-pilihan)mu seharusnya sudah semakin mengerucut. Bila target (judul) potensialmu ternyata lebih dari satu, maka kamu perlu mempertimbangkan mana yang akan kamu seriusi, dengan memperhatikan apakah judul itu bila ditindaklanjuti sebagai penelitian akan: (1) Realistis, dan (2) Feasible

Realistis disini secara pragmatis adalah kira-kira bakal disetujui ga dalam rapat jurusan, dan itu berarti mensyaratkan: jenis tema maupun metode belum terlalu sering dibahas (belum jenuh), permasalahan penelitian riil-tidak mengada-ngada, dan benar-benar permasalahan (dalam ranah ilmu) komunikasi. Jadi ya…semenarik apapun tema tersebut bagimu, sebaiknya jangan diajukan kalau itu tampaknya mengandung salah satu dari tiga unsur di atas. Tahu dari mana kamu bahwa tidak mengandung? (eh)

Ya tanyalah pada teman yang bergoyang..misalnya, (menimbang sulitnya bertemu dosen) pada asisten yang cukup memahami temamu, kakak kelas yang lumayan mumpuni, atau pada teman yang sudah lebih dahulu memasuki dunia perskripsian. 

Feasible. Secara bodon berarti: dapat dilakukan (dalam waktu dan keadaan yang paling masuk akal). Saya kurang yakin bisa menjelaskan ini secara lebih gamblang, tapi intinya, sungguh sangat tidak feasible mengambil judul atau topik penelitian bila pengerjaannya mensyaratkan mewawancarai Barack Obama, mengumpulkan data seluruh tweet seorang Indra Bekti selama setahun penuh, atau membaca seluruh halaman Kompas dari sejak pertama terbit. Can it be done? Ya, tentu. Asalkan kamu tidak peduli kapan kamu lulus dan berapapun biaya yang kamu keluarkan.

Bila tampaknya calon pacar, eh, tema penelitianmu tampaknya memenuhi semua syarat yang sudah kubahas, maka tunggu apa lagi..tulislah form 1-mu!
Setelah jadian (dengan syarat syah form 1 yang di-acc rapat jurusan), jangan dulu berbangga hati. Masih panjang jalanmu Nak.. Harus rajin membaca, mencerna, menulis. Begitu terus berulang-ulang, setiap hari. Ibarat hubungan romantis, jagalah rapportnya dengan rutin ngapel, sms, komen di wall, ngajak jalan, ga pernah bolong. Seperti itulah juga. Jangan sampai kamu sempat mis-kontak dengan skripsimu, meski hanya satu hari saja. Entah itu dengan baca 1 halaman, search jurnal, diskusi dengan teman, apapun. Karena sekali kamu lalai dan berpaling darinya, akan sulit kembali membangun “rasa” itu. Yang ada adalah semakin tergoda untuk lalai kembali, mengambil jarak, menyibukkan diri, dst dst dst dst. Tahu-tahu satu semester sudah berlalu. 

Begitulah. Perjalanan setelah form 1 memang sungguh tak terduga. Ada yang berlangsung cepat, berjalan lama, dan beringsut sangat lama. Tapi sebenarnya, kendali kecepatan ada di dirimu. Mau lulus cepet atau lama, ya (hampir seluruhnya) terserah padamu. Dan tentu saja, takdir yang Maha Kuasa. Inilah yang benar-benar membuktikan apa yang disebut: skripsi adalah ujian terakhir dan terbesar seorang mahasiswa. Bukan sekedar ujian intelektual dan mental, tapi lebih jauh dari itu, ujian kehidupan. Karena dalam proses pengerjaan dan penyelesaiannya, kita sepenuhnya diuji. Bagaimana menghadapi dosen pembimbing yang ga jelas, pacar yang rese, ortu yang rewel, dan dunia luar yang penuh godaan. Dan semuanya dalam satu waktu.
Lulus skripsi adalah bukti menaklukkan diri sendiri. 

Akhirul kalam, semoga racauan saya adalah sedikit yang bermanfaat bagi handai taulan sekalian. Sungguh, satu aksi lebih bermakna dari seribu kata. Giring dan bawa ide-ide dalam kepalamu, tangkap dan perangkap dalam tulisan; hingga menghasilkan satu gol indah. Tak lagi angan semata.

1 comment:

  1. Gilaaaak.. tulisanku 6 taon laluuuu... :D

    ReplyDelete